Hands-on Huawei Mate 10 & Mate 10 Pro

Kalau ada smartphone flagship Android yang berpotensi jadi lawan tangguh iPhone X, bisa jadi itu adalah Huawei Mate 10. Bukan tanpa alasan, karena smartphone ini diotaki Kirin 970 yang dilengkapi artificial intelligence.

Serupa tapi tak sama

mate 10 01

Dua smartphone ini adalah Huawei Mate 10 dan Mate 10 Pro. Sekilas memang terlihat identik, tapi sebenarnya ada beberapa perbedaan. Total Huawei merilis tiga flagship sekaligus. Selain Mate 10 dan Mate 10 Pro, ada juga Mate 10 Porsche Design.

Huawei merilis Mate 10 dan Mate 10 Pro sebagai opsi untuk para calon penggunanya. Kalau Anda mau punya smartphone flagship yang desainnya kekinian, bisa pilih Mate 10 Pro. Smartphone ini punya layar AMOLED 6 inci dengan rasio 18:9. Bezelnya tipis dan punya resolusi 2.160 x 1.080 piksel.

Dan khusus buat Anda yang lebih suka smartphone melebar, maka bisa memilih Mate 10 biasa. Dimensi bodinya sedikit lebih pendek dari Mate 10 Pro dengan ukuran layar IPS 5,9 inci 16:9. Walaupun ukuran layarnya ini lebih kecil, tapi resolusinya justru lebih tinggi, yaitu 2.560 x 1.440 piksel.

Kalau kita sandingkan berdampingan, bisa dilihat kalau layar kedua smartphone ini sama-sama ber-bezel tipis. Dan mari kita perhatikan bagian dagunya. Pada Mate 10 masih ditemui tombol Home fisik multifungsi yang juga bertugas sebagai tombol back dan sensor sidik jari.

Sedangkan pada Mate 10 Pro, tombol Home tidak ada dan diganti logo Huawei. Seluruh tombol navigasinya ada di dalam layar. Dan untuk sensor sidik jarinya ada di bagian belakang.

Kamera Leica di belakang

mate 10 02

Sekarang mari kita lanjut melihat-lihat bagian belakangnya. Bisa kita lihat Huawei Mate 10 dan Mate 10 Pro sama-sama kinclong alias berkilau. Ini karena Huawei sudah move-on menggunakan bahan kaca, bukan lagi aluminium seperti pada Mate 9.

Oh ya sebelum bahas lebih jauh, kami mau informasikan dulu kalau unit yang sedang kami jajal ini masih berupa enginering sample, khususnya untuk varian Mate 10 ini. Jadi jangan bingung kalau Anda tidak melihat logo Huawei dan Leica di smartphone ini.

Sama seperti Mate 9 taun lalu, Huawei Mate 10 lagi-lagi masih membawa sistem kamera yang mirip. Kamera utamanya ada dua, ditempatkan vertikal atas bawah ditemani dual-LED flash.

Lensa dan spesifikasi kamera yang digunakan di kedua smartphone ini sama persis. Lensanya yakni Summilux dari Leica dengan resolusi masing-masing 20 MP monokrom dan 12 MP RGB f/1.6. Biar makin jago motret, kamera utamanya yang beresolusi 12 MP ini ditunjang OIS dan PDAF.

Seperti biasa mode fotonya ada banyak dan yang jadi andalan utamanya yaitu wide aperture atau bokeh. Buat yang mungkin hobi selfie, kamera depan Mate 10 series beresolusi 8 MP f/2.0 udah dilengkapi beautify dan mode bokeh.

Kirin 970

mate 10 03

Nah yang menarik dari kameranya yaitu kemampuan mendeteksi kondisi. Dengan bantuan artificial intelligence, kamera Mate 10 series bisa ngenalin jenis objek, seperti manusia, bunga, makanan, kendaraan, tulisan, dan lain-lain biar motret lebih maksimal.

Dan ini semua dimungkinkan berkat penggunaan chipset Kirin 970. Tapi walaupun chipset-nya sama, ternyata ada sedikit perbedaan spek di antara keduanya. Mate 10 biasa punya RAM 4 GB dan storage 64 GB, sedangkan di Mate 10 Pro ada pilihan kapasitas 6 GB dan 64 atau 128 GB.

Perlu diketahui kalau Huawei Mate 10 Pro nggak punya slot microSD dan juga minus jack audio, tapi udah punya sertifikat IP67 tahan air dan debu. Sedangkan Mate 10 biasa masih punya slot microSD hybrid dan jack audio, tapi minus sertifikat IP67.

Belum ada informasi resmi apakah nantinya Mate 10 series bakal masuk Indonesia atau tidak. Mari berdoa saja mudah-mudahan bakal tersedia resmi. Kalau penasaran dengan harganya, Huawei Mate 10 series bakal dijual mulai Rp10 jutaan untuk versi global.

Video hands-on

(last edit: 23 October, 2017 / 10:35 am)

Bagaimana menurut Anda?
Keren!
91%
Mau
17%
Biasa Aja
0%
Payah!
2%
Tentang Penulis
Romi Hidayat

Pengguna iPhone X. Mengawali karir sebagai jurnalis dan Lab Coordinator untuk majalah CHIP Indonesia hingga 2014. Selanjutnya ia bekerja di Jalantikus dan kini menjadi salah satu Co-founder DroidLime.