Harga

Rp26 juta

Prosesor

Intel Core i7-7700HQ up to 3,8 GHz

GPU

NVIDIA GTX 1050 4 GB

RAM

16 GB DDR4

Storage

512 GB SSD PCIe

Layar

IPS 15,6 inci Full HD (1.920 x 1.080) touchscreen

Kamera

HD webcam

Baterai

73 Whr

Sistem Operasi

Windows 10 Home

Interface

2x USB 3.1, 2x USB C, port HDMI, jack audio, microSD

Kita tahu ASUS sering merilis notebook yang dirancang jadi pesaing MacBook dari Apple. Setelah dulu pernah me-review ZenBook 3 yang jadi pesaing All New MacBook, nah sekarang giliran ZenBook Pro yang bakal kami review. Katanya ini adalah pesaing MacBook Pro. Benarkah?

Seharga MacBook Pro

zenbook pro droidlime 01

Sekadar info, sebelumnya notebook utama yang kami gunakan untuk me-render video yang biasa kami publish di channel YouTube kami adalah MacBook Pro 13 yang kami beli sekitar Rp22 juta. Notebook ini kami pakai hampir tiga bulan dan sejauh ini terasa baik-baik saja.

Sampai akhirnya ASUS merilis ZenBook Pro UX550 dibulan Agustus kemarin yang sukses bikin kami penasaran. Kami pun langsung pesan dengan harga sedikit lebih mahal dari MacBook Pro, yaitu Rp26 juta.

Di atas kertas, ZenBook Pro punya dimensi dan spesifikasi yang lebih tinggi dari MacBook Pro 13 yang kami punya. Jadi seharusnya performanya juga bakal lebih kencang. ZenBook Pro datang dengan layar 15,6 inci dalam balutan desain aluminium unibody.

Layar besar, touchpad kecil

zenbook pro droidlime 04

Untuk dibawa-bawa ngantor setiap hari, ukurannya memang agak sedikit besar. Ditambah lagi dimensi power adaptornya juga lumayan. Tapi sebenarnya masih bisa dibilang cukup nyaman karena tebalnya hanya 1,9 cm dan bobot notebook-nya sendiri cuma 1,8 kg.

Sesuai dengan peruntukannya buat editing dan multimedia, layar 15,6 inci ZenBook Pro memang terasa pas. Nggak kebesaran, juga nggak kekecilan. Layar ini punya resolusi Full HD, color gamut sRGB 100%, mendukung layar sentuh, dan enak dilihat karena bezelnya yang tipis. Tapi satu keluhan kami soal layarnya yakni terlihat glossy jadi bakal memantul saat penggunaan outdoor.

zenbook pro droidlime 03

Lalu untuk keyboard-nya ternyata cukup serupa MacBook Pro 15. Layout-nya fullsize dan dilengkapi backlit. Kita bisa lihat ada space yang lumayan lega di sisi-sisi keyboard-nya. Tapi satu hal yang paling bikin beda dari MacBook Pro adalah ukuran touchpad-nya.

Kalau pada MacBook Pro ukuran touchpad super duper luas, touchpad di ZenBook Pro ini jauh lebih mini, walaupun juga ada sensor fingerprint-nya. Tingkat akurasinya touchpad-nya belum sebaik touchpad MacBook. Jadi kalau buat editing sehari-hari, mouse eksternal bakal jadi sebuah keharusan.

Nah, ternyata nggak cuma layout keyboard-nya saja yang mirip. ASUS juga menempatkan grill speaker pada posisi serupa MacBook Pro, yaitu di bagian kiri dan kanan keyboard. Plus ada dua grill speaker lainnya tepat di bawah palm rest. Jadi, total ZenBook Pro punya empat speaker bersertifikasi Harman Kardon. Otomatis kualitasnya jadi salah satu yang terbaik untuk ukuran notebook.

Editing kencang, gaming oke

zenbook

Sebenarnya kalau bicara ZenBook Pro, hal paling menarik buat dibahas tentu adalah performanya. Karena spesifikasi yang dibawa ternyata mirip-mirip spesifikasi notebook gaming mid-end.

CPU-nya Intel Core i7-7700HQ up to 3,8 GHz dengan cache 6 MB. Ditunjang RAM 16 GB DDR4 dan SSD 512 GB. Serta GPU NVIDIA GTX 1050 dengan VRAM 4 GB DDR5. Dengan spesifikasi seperti ini, bukan cuma edit video, tapi kita juga bisa main game-game baru dengan lancar pakai grafis medium.

Bagaimana dengan daya render-nya? Jujur saja kami sangat terkesan dengan performanya. Dan memang sudah sepantasnya notebook seharga lebih dari Rp20 juta punya kemampuan seperti ini.

Sebagai gambaran, untuk me-render video HD 60 fps berdurasi lima menit yang dipercantik dengan color grading dan juga elemen grafis, dibutuhkan waktu sekitar 6 menit. Sedangkan untuk me-render video Full HD 60 fps berdurasi sepuluh menit dengan konten kompleks memuat video, foto, dan elemen grafis memakan waktu 31 menit.

zenbook pro droidlime 06

Dengan performa yang ditawarkan, kami sangat merasakan efisiensi khususnya dalam hal waktu. Karena selain bisa me-render video dengan cepat, memutar preview video saat proses editing juga terasa lancar jaya dengan resolusi 50 persen atau bahkan full.

Untuk memaksimalkan kinerjanya biar nggak nge-drop, ASUS merancang sistem pendinginan yang berisi tiga heatpipe dan dua fan. Dan untuk menyuplai dayanya, ada baterai 73 Whr yang disematkan yang selama kami coba bisa bertahan sepuluh jam untuk sekadar ngetik, delapan jam buat nonton video offline non-streaming, atau empat sampai lima jam untuk penggunaan berat editing dan browsing.

Dan satu hal lagi yang kami suka dari ZenBook Pro adalah ketersediaan interface atau port yang cukup lengkap dibanding MacBook Pro. Ada dua port USB C, dua port USB 3.1, satu port HDMI, jack audio, dan slot microSD. Plus juga ada dongle USB to LAN dalam paket penjualannya.

Free Windows 10

zenbook pro droidlime 11

Sesuai dengan campaign ASUS yang diumumkan belum lama ini, seluruh notebook terbaru ASUS bakal di-bundling sistem operasi Windows 10. Termasuk pada ZenBook Pro yang dibekali Windows 10. Dalam OS ini terdapat fitur favorit kami, yaitu Windows Hello untuk meng-unlock notebook dengan mudah. Fitur ini terintegrasi dengan sensor fingerprint pada ZenBook Pro.

Selain itu, dengan update terbaru pada Windows 10 bakal menambah keamanan data yang ada di dalam notebook berkat fitur Windows Defender. Fitur ini bakal menjaga dan memblokir virus, malware, atau spyware yang datang dari berbagai sumber. Bisa dari internet, flash disk, dan lainnya.

Kesimpulan

Dengan harga yang bisa dibilang setara MacBook Pro, ASUS ZenBook Pro layak mendapat predikat MacBook Pro killer khusus untuk performanya. Walaupun dari segi penampilan dan gengsi masih kalah wah dari MacBook, tapi setidaknya kinerjanya sangat bisa memanjakan para content creator atau bahkan para gamer.

Video review

(last edit: 16 December, 2017 / 6:14 pm)

Bagaimana menurut Anda?
Keren!
83%
Mau
10%
Biasa Aja
10%
Payah!
5%
Tentang Penulis
Romi Hidayat

Pengguna iPhone X. Mengawali karir sebagai jurnalis dan Lab Coordinator untuk majalah CHIP Indonesia hingga 2014. Selanjutnya ia bekerja di Jalantikus dan kini menjadi salah satu Co-founder DroidLime.